IPDN Kampus Sulawesi Selatan

Semarak Dies Natalis IPDN dan Hari Kesaktian Pancasila, Ratusan Anak Ikuti Festival Sepak Bola Nusantara di Gowa

 

GOWA – Hujan gerimis yang mengguyur lapangan sejak pagi tidak menyurutkan semangat ratusan anak berlarian mengejar bola. Bukan upacara bendera atau pidato seremonial, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, justru diwarnai dengan sorak sorai gol, peluit wasit, dan tawa riang anak-anak.

Melalui Festival Anak Nusantara IPDN Camp Cup 2026, nilai-nilai luhur Pancasila—terutama persatuan, kerja sama, sportivitas, dan keadilan—ditanamkan secara langsung di lapangan hijau. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa makna kesaktian Pancasila tidak hanya dihayati melalui seremoni, tetapi juga melalui aksi nyata yang membangun karakter generasi muda.

Antusiasme Ratusan Peserta dari Sepuluh Kabupaten

Pantauan di lokasi, Lapangan Sepak Bola di kompleks Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) IPDN Kampus Sulsel, Gowa, tampak padat oleh peserta, pelatih, dan orang tua yang mendampingi. Sebanyak 40 tim dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) se-Sulawesi Selatan ambil bagian dalam festival ini. Mereka terbagi dalam dua kategori: Kelompok Umur di bawah 10 tahun (U-10) yang diikuti 16 tim, serta Kelompok Umur di bawah 12 tahun (U-12) yang diikuti 24 tim.

Peserta datang tidak hanya dari Gowa dan sekitarnya, tetapi juga dari kabupaten jauh seperti Sidrap, Bone, Maros, Takalar, Jeneponto, hingga Wajo. Total sekitar 600 anak ikut meramaikan ajang yang berlangsung selama dua hari itu.

“Bukan Sekadar Menang, Tapi Tumbuh Bersama”

Ketua Panitia Penyelenggara, Ihsan Suciawan, menjelaskan bahwa festival ini sengaja dirancang berbeda dari kompetisi biasa. Tidak ada piala bergilir atau hadiah uang tunai yang besar. Yang ada adalah medali, piagam penghargaan, dan yang terpenting—pengalaman bermain yang sehat.

“Kami sengaja menyebutnya festival, bukan turnamen. Karena tujuannya bukan mencari juara, melainkan memberi ruang seluas-luasnya bagi anak-anak untuk mengekspresikan bakat, membangun rasa percaya diri, dan yang paling utama, belajar menghormati lawan, wasit, serta menerima kekalahan dengan lapang dada. Itu semua adalah nilai-nilai Pancasila yang hidup,” jelas Ihsan di sela-sela pertandingan.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat dan pembinaan olahraga yang dilakukan oleh IPDN Kampus Sulsel. “Kami ingin kampus tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi pusat pembinaan karakter bangsa sejak usia dini melalui olahraga,” tandasnya.

PSSI Gowa: Talenta Muda Gowa Sangat Menjanjikan

Para official yang bertugas pun tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka terhadap kualitas permainan anak-anak. Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Gowa, H. Yanuar, yang hadir langsung menyaksikan babak final, mengatakan bahwa kompetisi usia dini seperti ini sangat penting untuk memetakan bibit-bibit unggul sepak bola daerah.

“Kami melihat secara langsung, anak-anak U-10 dan U-12 ini sudah memiliki teknik dasar yang baik, pemahaman posisi, bahkan keberanian melakukan dribbling dan umpan-umpan pendek. Ini luar biasa. Artinya, pembinaan di SSB-SSB di Gowa dan sekitarnya sudah berjalan baik. Festival seperti ini harus terus didukung karena menjadi ajang uji coba sekaligus motivasi bagi anak-anak untuk berlatih lebih giat lagi,” ujar H. Yanuar dengan antusias.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada IPDN Kampus Sulsel yang telah menginisiasi kegiatan positif di tengah padatnya agenda akademik. “Kolaborasi antara institusi pendidikan dan PSSI daerah adalah kunci untuk melahirkan pesepak bola hebat sekaligus pribadi yang berkarakter Pancasila,” tambahnya.

Final Seru: SSB Bontoramba vs SSB Syekh Yusuf

Puncak acara festival ini adalah pertandingan final antar kategori. Untuk kategori U-12, laga puncak mempertemukan SSB Bontoramba (Gowa) melawan SSB Syekh Yusuf (Gowa). Pertandingan berlangsung sengit namun penuh sportivitas. Sepanjang babak pertama, kedua tim saling jual beli serangan. Hingga menit ke-15 babak kedua, SSB Bontoramba berhasil mencetak satu gol melalui tendangan jarak jauh kapten timnya.

SSB Syekh Yusuf tidak tinggal diam. Beberapa kali mereka nyaris menyamakan kedudukan, namun penampilan apik kiper SSB Bontoramba menggagalkan peluang emas tersebut. Skor 1–0 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang. Meski kalah, seluruh pemain SSB Syekh Yusuf tetap tersenyum dan bersalaman dengan lawan, lalu bersama-sama memberi hormat kepada orang tua dan pelatih mereka.

Untuk kategori U-10, kemenangan diraih oleh SSB Sultan Hasanuddin setelah mengalahkan SSB Bontomarannu melalui adu penalti dengan skor 3–2.

Harapan untuk Masa Depan

Salah satu orang tua peserta, Hasmia (38), warga Pallangga, Gowa, mengaku sangat bersyukur anaknya bisa mengikuti festival ini. “Anak saya yang umur 9 tahun sangat senang. Biasanya cuma latihan di lingkungan, sekarang bisa bermain dengan teman-teman dari kabupaten lain. Saya lihat dia belajar menghargai wasit dan tidak mudah marah saat kalah. Ini lebih berharga daripada sekadar juara,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan dari IPDN Kampus Sulsel dalam sambutan penutupan menyampaikan komitmennya untuk menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan. “Tahun depan kami targetkan peserta tidak hanya dari Sulsel, tetapi juga dari provinsi tetangga seperti Sulbar dan Sultra. Karena semangat Nusantara harus terus bergema,” ujarnya.

Pancasila dalam Setiap Tendangan

Festival Anak Nusantara IPDN Camp Cup 2026 akhirnya ditutup dengan pembagian medali, piagam, serta hadiah hiburan berupa alat tulis dan perlengkapan olahraga untuk seluruh peserta. Di tengah lapangan, terlihat anak-anak dari berbagai suku dan daerah berpelukan, bertukar jersey, dan berfoto bersama.

Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami definisi rumit tentang Kesaktian Pancasila. Tapi di lapangan hijau itu, mereka telah mempraktikkannya: gotong royong saat membantu teman yang jatuh, persatuan saat menyusun formasi, keadilan saat menerima keputusan wasit, dan keberanian saat harus mengambil risiko. Inilah wajah baru peringatan Hari Kesaktian Pancasila—yang bergema bukan dari pengeras suara, tetapi dari setiap tendangan bola dan tawa riang anak-anak Nusantara

Scroll to Top